Makassar, DailyIndonesiaNews.com – Prajurit Komando Daerah Angkatan Laut VI (Kodaeral VI) menunjukkan kesiapsiagaan tinggi dalam menghadapi berbagai potensi ancaman melalui latihan terpadu yang mencakup penanganan pembajakan kapal, pertahanan pangkalan, hingga pengendalian huru-hara. Seluruh rangkaian skenario berhasil diselesaikan secara cepat dan terukur dalam Latihan Visit, Board, Search, and Seizure (VBSS), Pertahanan Pangkalan (Hanlan), dan Penindakan Huru-Hara (Dakhura) Triwulan II Tahun 2026 yang digelar di Makassar, Kamis (2/7/2026).
Latihan tersebut dipimpin dan ditinjau langsung oleh Komandan Kodaeral VI, Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, S.H., M.M. Turut mendampingi Wakil Komandan Kodaeral VI, para Pejabat Utama (PJU), serta para Kepala Dinas dan Kepala Satuan Kerja Kodaeral VI untuk memastikan seluruh tahapan latihan berlangsung sesuai prosedur dan sasaran yang telah ditetapkan.
Skenario latihan diawali dengan simulasi pembajakan kapal umum di perairan sekitar pangkalan Kodaeral VI. Tim reaksi cepat VBSS yang didukung Kapal Angkatan Laut (KAL) Mamuju II.6-64 dan Sea Rider bergerak melakukan manuver pengejaran serta infiltrasi untuk merebut kembali kapal yang dikuasai kelompok pembajak.
Dalam simulasi tersebut, tim VBSS berhasil melumpuhkan para pembajak dan mengevakuasi seluruh sandera dengan aman tanpa menimbulkan korban. Keberhasilan operasi ini menunjukkan kemampuan prajurit dalam melaksanakan operasi penindakan maritim secara cepat, tepat, dan profesional.
Usai skenario di laut, latihan berlanjut ke darat melalui simulasi serangan udara terhadap Markas Kodaeral VI. Tim Pertahanan Pangkalan (Hanlan) segera mengambil posisi pertahanan untuk mengamankan objek vital, sementara Tim Pemadam Kebakaran bergerak cepat memadamkan api yang disimulasikan muncul akibat dampak serangan sehingga potensi kerusakan dapat diminimalkan.
Rangkaian latihan kemudian ditutup dengan simulasi penanganan aksi demonstrasi anarkis di gerbang utama Kodaeral VI. Tim Penanggulangan Huru-Hara (PHH) bersama Polisi Militer (POM) TNI AL Kodaeral VI membentuk barikade guna mengendalikan massa sesuai prosedur. Dalam skenario tersebut, unit anjing pelacak K-9 turut diterjunkan untuk membantu mengurai konsentrasi massa, sementara Tim Medis Reaksi Cepat bersiaga di jalur evakuasi untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban yang disimulasikan mengalami luka.
Komandan Kodaeral VI, Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, mengatakan latihan terintegrasi tersebut merupakan bagian dari upaya TNI Angkatan Laut untuk memastikan seluruh prajurit dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) berada dalam kondisi siap menghadapi berbagai bentuk ancaman, baik di wilayah laut maupun di pangkalan.
“Latihan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan uji kesiapsiagaan sejati prajurit dan alutsista kita. Dinamika ancaman bisa terjadi kapan saja, baik di laut maupun di pangkalan. Melalui latihan intensif yang memadukan unsur VBSS, Hanlan, hingga penanganan huru-hara ini, kita memastikan bahwa Kodaeral VI selalu berada dalam kondisi siap siaga 24 jam untuk memukul mundur musuh dan menjaga kedaulatan wilayah,” tegasnya.
Melalui latihan terpadu tersebut, Kodaeral VI menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kemampuan personel, memperkuat koordinasi antarunsur, serta memastikan kesiapan operasional guna mendukung pelaksanaan tugas pertahanan negara di wilayah kerja TNI Angkatan Laut.













